#FFKamis – Teladan

Angkot dan mikrolet menciumkan bibir-bibirnya di persimpangan, persis di depan mobil tempat aku dan Ayah berada.

Supir angkot dan mikrolet keluar dari kemudinya, turun ke jalan bermuka merah padam. Yang satu berteriak, yang satu lagi mengumpat.

Mendadak, Ayah beranjak dari joknya, memosisikan diri di tengah-tengah persitegangan.

Mereka yang tadi perang urat nadi, kini tertunduk-tunduk  dan saling bersalaman. Bahu-bahu mereka ditepuk-tepuk Ayah. Senyumnya seakan tidak pernah terbenam.

Melihatnya, kedua ujung bibirku mendekati telinga. Pria itu, baju dan celananya lusuh, dahinya pun dibanjiri peluh.

Namun, saat itu Beliau tampak lebih gagah dari siapa pun.

Ya Tuhan…

Saat dewasa, aku ingin menjadi sepertinya.

 

Medan, 9 Februari 2017

100 kata

Advertisements

#FFKamis – Bertambah Usia

Belum pernah Mata Eruska membelalak selebar ini. Teman-teman di sekelilingnya pun berwajah iri.

Sebuah kue super besar tersaji di hadapan mereka, lengkap dengan sepuluh lilin serta tulisan “Happy Birthday” yang terukir indah di lapisan gula.

Para hadirin bernyanyi dan bertepuk tangan. Di penghujung lagu, mereka bersorak.

“Tiup lilinnya!”

“Tiup lilinnya!”

Butuh tiga embusan, tapi api lilin sudah padam semua. Tepuk tangan dan semarak pun membahana.

Meski sekejap saja.

Eruska mematung. Ada yang berjela di kupingnya.

Meniris di matanya.

Membara di giginya.

Menjalar di rambutnya.

Papa dan Mama Eruska bergidik saat menatap seringai lebar Eruska. Suaranya bergetar saat bertanya,

“Kamu siapa?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jreng

Jreng

Satu kata yang paling pantas menggambarkan selera istriku berdandan.

Istriku sangat suka berdandan. Koreksi, berdandan adalah hidup-matinya. Dia selalu serius di depan cermin dan meja rias. Ketelitiannya maksimal saat menyapukan gincu dan perona. Kepaduan antarpakaian pun ditentukan secara ilmiah. Terlebih lagi, istriku sangat menyukai detail. Semakin rinci motif pada baju, rok, atau kerudung (bahkan pakaian dalam), ia semakin cinta. Dilengkapi berbagai koleksi aksesorinya yang sangat beragam, istriku selalu merasa dirinya cantik, dan sering kali aku menyetujuinya.

Namun, malam itu aku tidak sependapat dengannya. Warna merah cerah pada baju chinese kerah tinggi yang ia kenakan membuat mataku dilanda siksa. Kerudung emas cerahnya bisa kulihat dari Afrika. Belum lagi rok hijau panjangnya full manik-manik sehingga memantulkan cahaya ke seluruh penjuru dunia. Penampilan istriku kali ini sungguh berlebihan. Tegas kukatakan supaya istriku mengganti pakaian.

“Papa, kenapa sih? Biasanya suka kalau mama dandan begini.”

“Kali ini nggak, Ma. Papa gak suka.”

“Gak suka gimana? Mama cantik luar biasa begini kok bisa-bisanya papa bilang gak suka?”

“Ma,” aku menyahut pelan, “kita ini mau pergi tahlilan.”

 

30 Oktober 2016, menjomblo di dalam kamar.

#FFKamis: Maling-Maling Malang

Kekeh-kekeh aku saat Wastu mencopot jantungku.

Pertamanya sih, rencana kami sederhana saja. Burung berkabar, dua hari silam seorang tua bangka tajir dikuburkan.

Si Tua ini, kikir sampai mati. Punya anak istri, tapi harta masuk peti. Lah, otak kami mutar dong! Daripada menganggur bersama cacing dan belatung, mending hartanya dipakai  teler dan mesum.

Jadinya, malam buta, kami korek-korek tanah cukup lama sampai peti si Bangka ketemu juga.

Namun, tua bangka ini pelitnya bukan main. Hartanya sudah dipasang mantra anticuri. Bukannya jadi kaya, kami malah kena santet. Kubuka kepala Wastu kayak telur, sedangkan beliungnya mencongkel keluar jantungku.

Ketawa-ketawa deh kami sampai mati.

Medan, 29 September 2016

#FFKamis – Eris dan Laga

Lamunan mesum Eris dibuyarkan ketukan di jendela. Remaja lelaki itu terkaget, namun cepat tersadar. Gegas dibukanya jendela kamar dan melompat turun ke tanah. Di sana, sudah menunggu Laga, teman baiknya.

“Sudah siap?”

“Iya. Yuk buruan, mumpung masih gelap.”

Keduanya berlari menyusuri jalan menuju padang ilalang, dalam diam, dalam keheningan malam.

Laga berhenti di samping pohon besar, lalu membuka kancing kemeja. Eris mengikutinya dengan melepas pengikat celana.

“Repot banget, Ris. Mesti diam-diam begini.”

“Mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kita lakukan di desa. Pasti ketahuan.”

Eris dan Laga kini telanjang bulat. Tidak berapa lama, purnama bercahaya terang.

Sekejap saja hening dipecah-pecah lolongan.

 

Fakultas Kopi, 23 September 2016

Sembunyi

Kalian tahu, sebagian makhluk sensitif terhadap rasa takut.

Lejit langkah Andi saat rerumputan diseberangi. Kencang, bagai diburu waktu.  Langkahnya kemudian terhenti saat dinding tinggi dirasa layak ‘tuk lindungi diri.

“..aaa…uuhhh…”

Andi diam tanpa gerak. Putus-putus napas pendek yang coba ia tahan. Dua tiga bulir dingin menganak sungai di kening. Punggung kurusnya mendempet dinding beton tebal, namun di baliknya pun bocah itu tidak merasa aman.

“…u…uh…”

Bulu kuduk meremang dalam sinkronasi sempurna. Senggal napas kian memburu. Dada kecil naik turun.

“aaa…..i…ann…”

Pemilik suara kian mendekat, mungkin tinggal beberapa meter saja.  Semua indra seperti mati rasa. Gigi gemeretak. Mata dipejam erat. Lantang doa dirapal di dalam sukma.

Sayang, Andi akhirnya ketahuan.

“Ketemu! Andi ketemu!”

“Sialan kamu, Citra! Kamu itu terlalu jago main petak umpet, tahu!”

 

Jumlah kata: 123

Diikut sertakan untuk dalam Giveaway ‘September Ceria’ yang diadakan Apura di sini

Prompt #100 – Boneka Lelaki

Pemandangan pagi hari yang biasa. Kopi hitam dan roti bakar, porsi sarapan untuk dua orang. Aku duduk terkantuk di dalam piyama kusut. Kemudian, ada istriku. Telah rapi berkat kebiasaan bangun sebelum  subuh.  Di pangkuannya, tergolek sebuah boneka. Model anak laki-laki bermata merah dengan material mayoritas adalah kain dan kapas. Istriku menamai boneka itu Danu.

Sama seperti mendiang anakku.

“Hihihi… Pa, anakmu ini lucu sekali ya?”

Aku tak langsung menjawab. Tak mampu. Perih di dada ini harus kuredam dulu.

“Memangnya, tadi dia ngomong apa ma?”

“Lho, masa tadi Papa gak dengar?”

Kupaksakan seutas senyum lirih, kemudian menggeleng.

“Danu tadi bercerita mimpinya semalam. Katanya-“

Kian panjang lebar ia bercerita, hatiku kian remuk mendengarnya. Kurang lebih sebulan yang lewat kami berdua kehilangan buah hati akibat kecelakaan lalu-lintas. Bus yang terjadwal membawanya ke kebun binatang remuk ditabrak truk bersupir nekat. Kami berdua sangat berduka. Namun esoknya, delusi istriku dimulai. Sebuah boneka kecil dinamai dan diperlakukan istriku persis anaknya sendiri.

***

Siangnya, kalau menurut jadwal aku seharusnya berada di kantor. Semestinya aku di belakang meja kerja, di hadapan tumpukan dokumen-dokumen yang mendesak untuk diperhatikan. Faktanya, aku justru sedang duduk bersama dr. Ramanjani, seorang dokter spesialis kejiwaan di suatu rumah sakit.

“Begitulah, Dok. Sudah sebulan sejak anak kami meninggal, sebulan lewat pula sejak perangai istriku berubah. Aku sudah tidak tahan lagi, Dok.”

“Baiklah, Pak Candra. Seminggu yang lalu, saya telah menyarankan rehab untuk istri anda. Namun, anda menolak.”

“Saya ingat dengan jelas, Dok.”

“Maka, saya akan pastikan sekali lagi. Rehabilitasi ini akan menghabiskan beberapa tahun dalam hidup istri anda. Katakan pada saya, kalau anda telah mantap hati untuk menitipkan istri anda pada saya.”

Kupejam kedua mata. Memantapkan hati. Membulatkan tekad.

“Aku yakin, Dok. Aku telah kehilangan seorang anak. Aku tak sanggup, kalau harus kehilangan istriku juga.”

***

Sore itu, istriku duduk santai di teras rumah. Danu si Boneka duduk manis di pangkuannya. Istriku beranjak saat melihatku pulang, menyambutku dengan senyuman.

“Ini siapa, sayang?” Istriku kini melempar senyuman ramah pada dr. Ramanjani dan kedua asistennya.

“Teman-teman kantor.” ujarku sembari memeluknya sedemikian rupa. Begitu erat hingga kedua tangan istriku tak mampu bergerak.

“Dok, sekarang saatnya!” sahutku lantang, yang kemudian ditanggapi oleh gerakan sigap dua asisten dr. Ramanjani. Tak berapa lama kemudian, istriku sudah pulas oleh anastesi.

“Baiklah Pak Candra, Istri anda akan kami bawa sekarang.”

“Aku mohon bantuannya, Dok. Tolong sembuhkan istriku. Kembalikanlah istriku seperti yang dulu.”

“Kami akan memberikan yang terbaik.”

Usai belaian singkat pada pipi istriku yang manis, aku pun melepas kepergiannya.  Terus kutatap mobil dr. Ramanjani yang membawanya hingga hilang di belokan. Aku menghela napas. Hidup tanpa dirinya akan terasa sangat berat. Namun, demi kebahagiaan kami, aku harus tabah.

***

Malam itu anak tetangga ternyata berulang tahun. Lagu-lagu dan tawa yang menggema hingga ke rumahku sedikit banyak membantu menyurutkan duka. Kupandu kedua kaki menuju kamar tidur. Di sana, kudapati boneka bernama Danu sedang duduk di atas tempat tidur, seakan sedang menatapku.

Di tengah kebisingan yang sangat, sebuah bisikan terdengar sangat jelas.

“Papa… Mama di mana?”

Demi Tuhan, dua mata merah itu menyala terang!

 

words: 495

prompt: http://www.mondayflashfiction.com/2015/12/prompt-100-rayakan-seratus.html

 

#FFRabu – Untitled

Dia lagi. Setiap pukul tujuh pagi, Si Lelaki selalu berdiam diri. Dua mata cokelatnya terus memelototi, mengabaikan tembok kaca yang berdiri membatasi.

Lima menit dia pun pergi, untuk kembali esok hari.

Hari ke-entah, rutinitas pecah. Si Lelaki masuk menerobos tembok kaca. Ia berbicara pada Tuan dengan wajah penuh cita. Tidak lama, aku pun terlelap.

Suatu hari kemudian, aku terbangun. Si Gadis duduk di hadapanku. Ia cantik, namun terlihat sedih.

Kenapa?

Karena bulir-bulir jatuh dari dua mata. Si Lelaki lalu menirunya.

Kantuk menguasaiku lagi.

Terbangun, kulihat tembok kaca yang kukenal baik. Di hadapanku, ada Si Pria.

Ia memandangiku, pun hari-hari berikutnya.

 

words count: 100 kata

prompt: cincin

 

 

Pertiwi

Cakwala kebiruan itu sudah berganti gelapnya hitam. Tidak benar-benar pekat, karena masih ada titik-titik cahaya berserakan tak beraturan. Laju mulai melambat dan guncangan telah mereda. Kurasakan daya jatuhku perlahan menghilang. Aku melepas sabuk pengaman, dan menoleh pada sosok bulat kebiruan di luar jendela.

“Meda, lihatlah.” tuturku pada gadis merangkap co-pilot-ku.

“Luar biasa, ya…”

“Kalau dari jauh begini, Bumi tidak terlalu tampak buruk.”

“Bumi itu selalu indah, Bima. Manusialah yang buruk rupa.”

Aku hanya diam. Ribuan ingatan buruk kembali berkelebat.

“Aku tidak akan kembali ke sana.”

Meda menggeleng. “Tidak ada yang memintamu pulang sekarang, Bima.”

“Aku tidak akan pernah pulang.”

“Tahan niatmu itu, Bima. Suka atau tidak Bumi adalah rumahmu.”

“Kaulah rumahku, Meda.”

Kami berdua kembali diam. Empat mata masih terus melekat pada mutiara biru di angkasa.

“Janganlah membenci pertiwimu, Bima. Aku yakin, anak kita nanti akan sangat bertemu neneknya yang cantik ini.”

#FFRabu – Kapal Pecah

Ibu marah-marah lagi. Padahal, aku baru bangun. Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul. Tapi Ia tetap melampiaskan amarah sepuasnya.

“Daffa, ini kamar berantakan sekali!”

Ibu antik deh. Yang namanya cowok kamarnya ya berantakan. Sudah jasmani dan rohaninya begitu.

“Rapiin sekarang, Daffa!

“Nanti deh…. Baru bangun….”

“Sekarang, atau tanggung akibatnya.”

“Iya. Nanti”

“Oke, Ibu sudah ingatkan, ya.”

Setelah itu Ibu keluar dari kamarku. Kudengar dia berbicara dengan seseorang di luar. Kaget aku, saat Ibu kembali bersama gadis yang kutaksir.

“Fahime…?”

“Kan mau belajar bareng, Fa. Tapi gak jadi deh. Kamar kok kayak kapal pecah gini…”

Fahime kemudian berlalu, meninggalkan aku yang memerah malu.